Membangun Peradaban Bangsa Indonesia Melalui Pendidikan dan Bimbingan Komprehensif yang Bermutu

SPOT NEW PSIKOPEND 2016

Oleh : Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd.

Bangsa yang maju dan modern adalah bangsa yang unggul peradabannya. Peradaban adalah bentuk budaya paling tinggi dari suatu kelompok masyarakat yang dibedakan secara nyata dari makhluk lainnya. Peradaban mencerminkan kualitas kehidupan manusia dalam masyarakat. Kualitas peradaban diukur dari ketentraman  (human security), kedamaian (peacefull), keadilan (justice), dan kesejahteraan (welfare) yang merata. Peradaban adalah a way of life that is advanced enough to include living in cities.Sekaitan dengan peradaban, Maya History (2009: 1) menjelaskan Civilization is an advanced state of human society, in which a high level of culture, science, industry, and government has been reached.Selanjutnya Maya History (2009: 1-2) menjelaskan:

                 Civilization is an advanced state of intelectual, cultural, and material development in human society, marked by progress in the arts and science, the extensive use of record-keeping, including writing, and the appearance of complex political and social; the act or process of civilizing or reaching a civilized state; cultural or intellectual refinement, good taste; modern society with its conveniences.

Terdapat kesenjangan peradaban yang sangat tinggi antara negara maju (Amerika dan Eropa) dengan negara berkembang (Sebagian Asia dan Afrika). Data United Nation Development Program (UNDP), menunjukkan saat ini lebih dari 80 Negara di Asia dan Afrika memiliki pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan satu dekade sebelumnya. Tahun 1960, perbandingan pendapatan per kapita antara seperlima penduduk bumi di negara-negara terkaya dan seperlima penduduk bumi di negara-negara termiskin adalah 30:1. Tahun 1990, kesenjangan itu meningkat menjadi 60:1; dan tahun 1997 menjadi 74:1. Seperlima penduduk bumi di negara-negara kaya kini menikmati 86 persen GDP (Gross Domestic Product) dunia, 82 persen nilai ekspor dunia, dan 68 persen investasi asing secara langsung (Foreign Direct Investment/FDI) . Sementara seperlima penduduk bumi di negara-negara termiskin hanya menikmati 1 persen GDP dunia, 1 persen dari nilai ekspor dunia, dan 1 persen FDI. Keadaan kemiskinan negara-negara di bagian Selatan dunia pada dekade 1990-an digambarkan oleh James Gustave Speth, Presiden World Resources Institute, bahwa di negara-negara berkembang, sekitar 13-18 juta manusia, hampir seluruhnya anak-anak, meninggal akibat kelaparan dan kemiskinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *