Penerimaan Mahasiswa Baru Program Magister (S2) Psikologi Pendidikan

INFORMASI: Program Studi Psikologi Pendidikan membuka pendaftaran mahasiswa baru. Informasi pendaftaran kunjungi situs http://app.pmb.upi.edu/pascasarjana/ Atau dapat scan barcode di atas.

PRODI PSIKOLOGI PENDIDIKAN SPS UPI SELENGGARAKAN SEMINAR NASIONAL “KULTUR DALAM PENDIDIKAN”

Pada hari Kamis, 1 Maret 2018, Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Kultur dalam Pendidikan, Menumbuhkan Kesadaran Budaya pada Pendidik”,

Workshop Making the Meaningful Future by TEM (Trajectory Equifinality Modeling) and DST (Dialogical Self Theory

Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia telah menyelenggarakan workshop berjudul Making the Meaningful Future by TEM (Trajectory Equifinality Modeling) and DST (Dialogical Self Theory) pada hari Kamis, 1 Maret 2018 dengan pemateri Associate Professor Kiyomi Banda dari SANNO University, Tokyo, Jepang.

Seminar Nasional “Program Studi Psikologi Pendidikan Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia”

PRODI PSIKOLOGI PENDIDKAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Mempersembahkan : Seminar Nasional & Workshop Kultur dalam Pendidikan “Menumbuhkan Kesadaran Budaya pada Pendidik”

KULIAH UMUM PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Program Studi Psikologi Pendidikan SPs UPI Selanggarakan Kegiatan Kegiatan Kuliah Umum dengan tema

Program Studi Psikologi Pendidikan Telah Terakreditasi B

Mengelola Stres Pengasuhan dengan Mindful Parenting dan Power of Breathing

Stres karena anak-anak ga mau diatur ? Selalu pengen marah melihat tingkah laku anak -anak? Kami akan membahas permasalahan ini dalam webinar : Mengelola Stres Pengasuhan dengan Mindful Parenting dan Power of Breathing. Bersama 2 Narasumber yang berpengalaman yang akan berbagi tips terbaik agar para orang tua bisa mengelola stres nya dalam pengasuhan. Persembahan Komunitas Happy Mom, Happy Kids dengan Prodi Psikologi Pendidikan SPs UPI dan IPO Wilayah Jawa Barat Segera daftar karena peserta terbatas. Langsung klik di bit.ly/mengelola-stres Info : 081321115965 (Wulan)

[Webinar Program Magister Psikologi Pendidikan SPs UPI]

“Pendidikan dalam Peradaban Global: Tantangan & Tanggung Jawab”

🗣️ Narasumber:
Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd.
(Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Uzbekistan merangkap Republik Kyrgyzstan, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia)

🕺🏻 Moderator:
Imamudin, M.Pd.
(Kaprodi PGSD Universitas Bina Bangsa, Alumni Program Magister Psikologi Pendidikan SPs UPI)

🙋🏼‍♀️ MC:
Meyrisa Amelia, S.Pd.
(Mahasiswa Program Magister Psikologi Pendidikan SPs UPI)

Yang akan dilaksanakan pada:
🗓 Jumat, 25 November 2022
🕤09.15 – 11.15 WIB

📹 Zoom Meeting:
Meeting ID : 947 9604 0176
Passcode : psikopend

📝 Free Registration:
https://bit.ly/WEBINAR-SPs-Psikopend-UPI

Peserta Mendapat E-Certificate

☎️ Narahubung:
Bagus: 0812-2328-8432
Dewi: 0853-1528-6514

[Talkshow| Salman Empowering Teacher]

Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Salman Empowering Teacher akan menyelenggarakan Talkshow untuk Guru secara gratis dan terbuka untuk umum.

_”Guru Keren, Guru Berkompeten”._

Kegiatan Talkshow akan membahas kiat kiat menjadi guru yang keren dan berkompeten. Sekaligus Talkshow ini menjadi gerbang dari rangkaian kegiatan Salman Empowering Teacher lainnya.

Dengan mengikuti kegiatan talkshow ini, 5 peserta yang beruntung berkesempatan mendapatkan hadiah trip pendidikan senilai Rp. 30.000.000,-.

Talkshow SET InsyaAllah akan dilaksanakan pada:
🗓 Sabtu, 26 November 2022
⌚️ 08.00 – 11.45 WIB
📍Zoom Meeting

Narasumber:
– Dr. Tina Hayati Dahlan, M.Pd., Psikolog (Ketua Prodi Psikologi Pendidikan SPs Universitas Pendidikan Indonesia)
– Ivan Ahda (Deputi Direktur Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan)

Keynote Speaker:
Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A* (Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia)
*tahap konfirmasi

Daftar disini:
bit.ly/TalkshowSET

Batas Akhir Pendaftaran:
25 November 2022

CP 089523854100

#HariGuruNasional
#SalmanEmpoweringTeacher
#RumahAmalSalman
#LPPSalmanITB

Hari Pahlawan Nasional ke-77

Selamat Hari Pahlawan Nasional ke-77, 10 November 2022.

“Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.” (Moh. Hatta)

#HariPahlawan2022 #PahlawankuTeladanku #SPsUPI #PsikologiPendidikan

[Kelas Pagi] Perkembangan Sosial Emosional Remaja

Oleh:
Rejepmamet Yegenklychev ( 2022 )
Andri Kurniawan ( 2022 )
Mahardhika Peradana ( 2022 )

( Psikologi Perkembangan )

Identitas Diri
Menurut Erikson, Remaja berada pada tahap identity vs role confusion. Selama masa ini, remaja dihadapkan pada penentuan siapa diri mereka, tentang apa mereka, dan ke mana mereka akan pergi atau tujuan dalam hidup. Bila remaja berhasil menyelesaikan tahap ini, remaja akan menemukan tujuan yang oleh Erikson disebut Fidelity atau kesetiaan. Remaja merasakan kelegaan karena telah mengenal siapa dirinya, tempatnya dalam masyarakat dan kontribusi apa yang dapat disumbangkannya untuk masyarakat. Sebaliknya, remaja yang gagal memiliki Identitas Diri akan gelisah karena tidak memiliki kejelasan terhadap identitas dirinya, yang disebut Erikson kebingungan identitas.

Hubungan Orang Tua dan Remaja
Orang tua menjadi yang utama sebagai pengelola perkembangan anak. Aspek kunci dari peran pengasuhan adalah pemantauan yang efektif, yang sangat penting ketika anak-anak pindah ke masa remaja. Pemantauan termasuk mengawasi pilihan remaja tentang pengaturan sosial, kegiatan, dan teman-teman, serta upaya akademis mereka. Saat remaja mendorong otonomi atau kemandirian, orang dewasa yang bijaksana melepaskan kendali di area dimana remaja dapat membuat keputusan yang masuk akal, tetapi terus membimbing remaja untuk membuat keputusan yang masuk akal di bidang-bidang di mana pengetahuan remaja lebih terbatas. Secara bertahap, remaja memperoleh kemampuan untuk membuat keputusan yang matang pada diri mereka sendiri. Konflik sehari-hari yang menjadi ciri hubungan orang tua dan remaja mungkin sebenarnya memiliki fungsi perkembangan yang positif.

Pertemanan
Harry Stack Sullivan (1953) adalah ahli teori yang paling berpengaruh untuk membahas pentingnya persahabatan remaja. Pada masa remaja, kata Sullivan, teman menjadi semakin penting dalam memenuhi kebutuhan sosial. Secara khusus, Sullivan berpendapat, kebutuhan akan keintiman meningkat selama masa remaja awal, memotivasi remaja untuk mencari teman dekat. Cliques and crowds memainkan peran yang lebih penting selama masa remaja daripada selama masa anak-anak (Brown, 2011; Furman & Rose, 2015). Cliques adalah kelompok kecil yang berkisar dari 2 sampai sekitar 12 individu dan rata-rata sekitar 5 atau 6 individu. Crowds atau Kerumunan sosial adalah sekumpulan orang yang berada di suatu tempat, akan tetapi di antara mereka tidak berhubungan secara tetap.

Hubungan Romantis
Tiga tahap mencirikan perkembangan hubungan romantis di masa remaja (Connolly & McIsaac, 2009): Masuk ke atraksi romantis dan afiliasi pada usia sekitar 11 hingga 13 tahun. Tahap awal ini dipicu oleh pubertas. Dari usia 11 hingga 13 tahun, remaja menjadi sangat tertarik pada romansa dan itu menyebabkan banyak percakapan dengan teman sesama jenis. Remaja mulai tertarik atau ‘naksir’ dengan teman lawan jenisnya dan menceritakan hal tersebut kepada teman sesama jenisnya.

Menjelajahi hubungan romantis pada usia sekitar 14 hingga 16 tahun. Pada titik di masa remaja ini, dua jenis keterlibatan romantis terjadi, yaitu: (a) Kencan kasual muncul antara remaja yang saling tertarik. Pengalaman berkencan ini seringkali berumur pendek, paling lama berlangsung beberapa bulan, dan biasanya bertahan hanya beberapa minggu. (b) Berkencan dalam kelompok adalah hal biasa dan mencerminkan keterikatan dalam konteks teman sebaya. Teman sering bertindak sebagai fasilitator atau pihak ketiga dalam hubungan kencan, dengan mengkomunikasikan minat romantis teman mereka dan menentukan apakah ketertarikan ini dibalas.

Memperkuat ikatan romantis pada usia sekitar 17 hingga 19 tahun. Pada akhir tahun-tahun sekolah menengah, hubungan romantis yang lebih serius berkembang. Hal ini ditandai dengan ikatan emosional yang kuat yang lebih mirip dengan hubungan romantis orang dewasa. Hubungan ini seringkali lebih stabil dan bertahan lama daripada hubungan sebelumnya, biasanya berlangsung satu tahun atau lebih.

Sumber:
Sullivan, H.S. (1953).  The interpersonal theory of psychiatry. New York: W.W. Norton.
Santrock, J. W. (2019). Life-Span Development. New York: McGraw-Hill Education
Furman, W., & Rose, A.J. (2015). Friendships, romantic relationships, and other dyadic peer relationships in childhood and adolescence: A unified relational perspective. In R.M. Lerner (Ed.), Handbook of child psychology and developmental science (7th ed.). New York: Wiley.
Brown, B.B. (2011). Popularity in peer group perspective: The role of status in adolescent peer systems. In A.H.N. Cillessen, D. Schwartz, & L. Mayeux (Eds.), Popularity in the peer system. New York: Guilford.

[Kelas Pagi] Motivasi: Sebuah Hierarki Kebutuhan (menurut Abraham Maslow)

Oleh:
Dicky Zulkifli (2105362)
Salman Alfarisi (2106410)

Abraham Maslow seorang pakar psikologi yang lahir dan dibesarkan di Brooklyn, menggagas dan mengembangkan konsep tentang Motivasi. Menurut Maslow, motivasi manusia tersusun secara hierarki atau berurutan. Manusia memiliki kebutuhan yang beragam, dan motivasi tersebut akan meningkat berdasarkan kebutuhan yang diperlukan individu tersebut.

Di dalam konsep Maslow ini, kebutuhan yang lebih tinggi tidak akan dapat tercapai apabila kebutuhan yang di bawahnya belum terpenuhi. Ketika kebutuhan dasar (basic) atau kebutuhan yang lebih rendah (deficiency) telah terpenuhi, kebutuhan pertumbuhan (growth needs) akan mendorong manusia untuk berubah menjadi lebih baik dan mendorong manusia untuk mencapai tujuan yang lebih besar dari pada hanya menjadi apa adanya (Hall & Lindzey, 1985).

Hall dan Lindzey (1985) menjabarkan lebih rinci perihal hierarki kebutuhan manusia ini.

Physiological Needs (Kebutuhan Fisiologis)
Kebutuhan alamiah yang berkenaan dengan jasmani seperti kebutuhan makan dan minum. Kebetuhan ini secara sementara akan dapat terpenuhi dengan bentuk pemuasan. Misalnya ketika seseorang lapar atau haus, orang itu dapat memakan makanan atau minum untuk memenuhi kebutuhannya semetara waktu. Kebutuhan alamiah dari tubuh ini akan menuntut pemenuhannya, jika tidak, tubuh akan mati.

Safety Needs (Kebutuhan Keamanan)
Kebutuhan keamanan adalah kebutuhan manusia akan stabilitas, perlindungan, serta kebebasan dari rasa takut dan gelisah. Menurut Maslow, ilmu pengetahuan, filosofi, dan agama merupakan fenomena yang terbentuk akibat adanya motivasi untuk memenuhi kebutuhan keamanan ini.

Belongingness and Love Needs (Kebutuhan Kepemilikan dan Rasa Kasih Sayang)
Menurut Maslow, manusia memiliki dorongan untuk merasa menjadi bagian dari suatu lingkaran (circle). Manusia butuh merasa menjadi bagian dari rumah/keluarga, lingkaran pertemanan, ataupun bagian dari kelompok kerja. Dengan kata lain, dorongan alamiah manusia adalah menjadi bagian dari suatu kelompok dibandingkan menjadi “pendatang” atau orang asing pada suatu lingkungan yang ditemuinya.
Esteem Needs (Kebutuhan Penghargaan)
Kebutuhan penghargaan juga berhubungan dengan kehormatan, status, ketenaran, dan apresiasi yang diberikan orang lain terhadap seorang individu.
Menurut Maslow, pemenuhan terhadap kebutuhan penghargaan akan memberikan rasa percaya diri pada seorang individu. Di sisi lain, apabila kebutuhan ini tak terpenuhi, individu tersebut akan cenderung menjadi inferior atau rendah hati.

Need for Self Actualization (Kebutuhan Aktualisasi Diri)
Engler (2014) menjelaskan bahwa aktualisasi diri yang dimaksud pada teori Abraham Maslow merupakan keinginan untuk memenuhi potensi tertinggi dari suatu individu. Selain itu, Schultz dan Schultz (2016) menjelaskan bahwa aktualisasi diri merupakan perkembangan diri yang sepenuhnya dari seorang individu.
Aktualisasi diri ini akan dapat tercapai apabila kebutuhan-kebutuhan sebeleumnya telah terpenuhu. Maslow percaya walaupun seorang individu telah memenuhi kebutuhan hidupnya yang lain, namun kebutuhan aktualisasi dirinya belum terpenuhi maka individu tersebut akan menjadi frustrasi, gelisah, dan dipenuhi rasa ketidakpuasan. Ketika semua kebutuhan dasar telah terpenuhi, kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri akan bangkit.

Setiap manusia hanya sedang bertahan hidup dengan caranya masing-masing dan dengan kebutuhannya sendiri-sendiri. Seseorang akan dapat termotivasi untuk mengaktualisasikan dirinya setelah memenuhi kebutuhan-kebutuhan sebagaimana mestinya.

Semoga kita dapat terus memotivasi diri dan memenuhi segala kebutuhan dengan cara terbaik yang bisa kita lakukan.

Sumber:
Hall, C. S., & Lindzey, G. (1985). Introduction to Theories of personality. New York: Wiley.
Schultz, D. P. & Schultz, S. E. (2016). Theories of Personality (11th ed). Mason, OH: CENGAGE Learning Custom Publishing.

[Kelas Pagi] Performa Puncak

Oleh:
Milan Daryanani (2022)
Sri Suniarti (2022)  Psikologi positif dan pendidikan

Definisi Performa Puncak
Performa puncak adalah istilah yang digunakan Gayle Privette (1981, 1983) untuk menggambarkan saat-saat ketika kita tampil  di luar tingkat fungsi normal kita dan dapat terjadi dalam setiap aspek aktivitas manusia: intelektual, emosional, atau fisik

Hampir masing-masing dari kita dapat mengingat setidaknya satu kejadian di mana kita entah bagaimana, secara ajaib, tampil jauh lebih baik daripada biasanya. Beberapa orang mengingat kinerja yang unggul dalam ujian, yang lain mengingat insiden keberanian atau ketekunan yang tidak biasa, atau episode seperti yang dikutip di atas tentang kinerja puncak.

Parameter Performa Puncak
Penyelidikan Privette menemukan bahwa kinerja puncak dapat digambarkan dengan empat parameter:(1) fokus yang jelas pada diri, objek, dan hubungan;(2) keterlibatan yang intens dalam sebuah pengalaman (3) niat yang kuat untuk menyelesaikan suatu tugas; dan (4) ekspresi kekuasaan yang spontan. Meskipun penyelidikan Privette mengungkapkan bahwa banyak orang dalam berbagai situasi telah mengalami momen kinerja puncak, masih sulit untuk memahami pemicu yang tepat untuk pengalaman tersebut.

Kondisi saat Performa Puncak
Garfield dan Bennet (1984) menemukan delapan kondisi yang menyertai saat-saat ketika kinerja aktual berada dalam kondisi terbaiknya:1. Relaksasi mental dan rasa tenang, konsentrasi tinggi, dan sering kali waktu melambat.2. Relaksasi fisik dengan gerakan longgar dan cair.3. Percaya diri dan optimisme bahkan dalam menghadapi tantangan.4. Fokus pada saat ini dan rasa tubuh seseorang tampil secara otomatis.5. Tingkat energi yang tinggi disertai dengan emosi positif seperti kegembiraan, serta perasaan “panas” atau “bersemangat”.6. Kesadaran luar biasa dari tubuh sendiri. Seringkali ini disertai dengan kemampuan luar biasa untuk mengetahui apa yang akan dilakukan atlet lain dan kemampuan untuk merespons mereka secara instan.7. Rasa kontrol total tanpa upaya yang tidak semestinya untuk menciptakan atau mempertahankan kontrol itu.8. “Dalam kepompong.” Ini mengacu pada perasaan berada di dalam amplop yang melindungi seseorang dari gangguan. Selain itu, ini memungkinkan akses mudah ke kekuatan dan keterampilan seseorang.

Petunjuk Praktik menuju Performa Puncak
(1) keluar dari zona nyaman Anda dan tantang diri Anda sendiri; (2) fokus pada proses atau aktivitas saat-demi-saat; (3) sadar diri, bukan sadar diri; (4) percaya pada keterampilan Anda dan berhenti mengomel keraguan diri; (5) “mengatur panggung”, atau melakukan semua persiapan yang diperlukan sebelum kompetisi; dan (6) berlatihlah latihan meditasi sederhana untuk membantu memusatkan perhatian pada masa kini dan membantu mengendalikan pikiran-pikiran yang tidak perlu dan mengganggu.

Sumber:
Compton, C. William. (2005). An Introduction to Positive Psychology, USA: Thomson       Wadsworth, a division of Thomson Learning.
Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The psychology of optimal experience. New York: Harper & Row. Csikszentmihalyi has several interesting books on flow written for the general public.
Garfield, C. A., & Bennett, H. Z. (1984). Peak perfor- mance: Mental training techniques of the world’s greatest athletes. Los Angeles: Tarcher.
Privette, G. (1983). Peak experience, peak performance, and flow: A comparative analysis of positive human experiences. Journal of Personality and Social Psychol- ogy, 45(6), 1361–1368.
Privette, G., & Landsman, T. (1983). Factor analysis of peak performance: The full use of potential. Journal of Personality and Social Psychology, 44(1), 195–200.

[Kelas Pagi] Karakteristik Perkembangan Masa Kanak-Kanak Pertengahan

Oleh:
Firda Syafriyanti (2021)
Shintia Anggraeni A (2021)

Psikologi Perkembangan

Masa kanak-kanak tengah dan akhir adalah periode perkembangan dari sekitar usia 6 sampai 11 tahun, kira-kira sesuai dengan tahun-tahun sekolah dasar.
Selama periode ini, keterampilan dasar membaca, menulis, dan berhitung dikuasai. Anak secara formal dihadapkan pada dunia dan budaya yang lebih besar.
Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak, dan kontrol diri meningkat. (Santrock, 2009)

Menurut  Khadijah (2020), perkembangan motorik kasar kemampuan menggerakkan tubuh (kaki, tangan, wajah, dan anggota tubuh lain) dengan mengandalkan otot-otot besar (berlari, menendang, duduk, naik turun tangga dan lainnya). Sedangkan perkembangan motorik halus yaitu kemampuan menggerakkan otot halus dengan koordinasi mata dan tangan (memotong, menggambar, menulis dan lainnya).

Santrock mengungkapkan 3 hal yang berkaitan dengan proses informasi pada siswa SD jenjang bawah, diantaranya long-term memory (memori jangka panjang), thinking (pemikiran/ cara berpikir), dan metacognition (metakognitif).

Pada usia sekitar 7 tahun, anak-anak mulai merespons dengan kata (part of speech) yang sama dengan kata stimulus.

Kosakata anak-anak meningkat dari rata-rata sekitar 14.000 kata pada usia 6 tahun menjadi rata-rata sekitar 40.000 kata pada usia 11 tahun. Anak-anak membuat kemajuan serupa dalam tata bahasa (Zukowski, 2009) dalam Santrock.

Karakteristik perkembangan Sosioemosional anak usia sekolah dasar

  • Keinginan menguasai sesuatu
  • Keinginan berjaya,
  • Menguasai kemahiran asas fisikal dan sosial
  • Memerlukan peneguhan positif/penghargaan trehadap tugas yang disempurnakannya
  • Merasa komplek rendah diri jika dikritik

Referensi :
Santrock, J. (2010). Child Development (Thirteeth Editiona). New York: McGrawHill.
Khadijah & Amelia, N. (2020). Perkembangan Fisik Motorik Anak Usia Dini: Teori dan Praktik. Jakarta. KENCANA.

Hari Sumpah Pemuda

“Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2022”

Mari kita bersama melakukan perubahan konstruktif untuk membangun bangsa kita tercinta!
Mulai dari diri kita …
Mulai dari langkah kecil … Mulai dari saat ini …

[Ucapan Wisuda] Selamat dan Turut Berbangga

Selamat dan turut berbangga kepada
WISUDAWAN PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Semoga Saudara/i dapat mengemban amanah baru dengan penuh tanggung jawab dan barakah, serta menjadi insan yang senantiasa altruis menebar manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

[Kelas Pagi] Kesulitan Belajar

Oleh:
Intan Mestika 2110006
Lasmiyati 2105201

Apa itu kesulitan belajar?
Subini (2013) menyatakan bahwa kesulitan belajar merupakan suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan, baik berbentuk sikap, pengetahuan, maupun keterampilan

Gejala-gejala kesulitan belajar… (Sugihartono dkk ,2014)

  • Prestasi belajar rendah
  • Lambat dalam mengerjakan tugas
  • Menunjukkan perilaku menyimpang
  • Sikap tidak peduli dalam mengikuti pelajaran

Hal yang menyebabkan kesulitan belajar..(Abdurrahman,2011)

  • Tujuan belajar yang tidak jelas
  • Kurangnya rasa percaya diri
  • Kurangnya fasilitas yang menunjang pembelajaran

Membuat klasifikasi kesulitan belajar tidak mudah, karena kesulitan belajar merupakan kelompok kesulitan yang heterogen. Kesulitan belajar memiliki banyak tipe yang masing-masing memerlukan diagnosis dan remediasi yang berbeda-beda.

Sumber:
Subini, N. Dkk (2013), psikologi pembelajaran, Yogyakarta:Mentari Pustaka
Sugihartono, (2014), Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press