Penerimaan Mahasiswa Baru Program Magister (S2) Psikologi Pendidikan

INFORMASI: Program Studi Psikologi Pendidikan membuka pendaftaran mahasiswa baru. Informasi pendaftaran kunjungi situs http://app.pmb.upi.edu/pascasarjana/ Atau dapat scan barcode di atas.

PRODI PSIKOLOGI PENDIDIKAN SPS UPI SELENGGARAKAN SEMINAR NASIONAL “KULTUR DALAM PENDIDIKAN”

Pada hari Kamis, 1 Maret 2018, Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Kultur dalam Pendidikan, Menumbuhkan Kesadaran Budaya pada Pendidik”,

Workshop Making the Meaningful Future by TEM (Trajectory Equifinality Modeling) and DST (Dialogical Self Theory

Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia telah menyelenggarakan workshop berjudul Making the Meaningful Future by TEM (Trajectory Equifinality Modeling) and DST (Dialogical Self Theory) pada hari Kamis, 1 Maret 2018 dengan pemateri Associate Professor Kiyomi Banda dari SANNO University, Tokyo, Jepang.

Seminar Nasional “Program Studi Psikologi Pendidikan Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia”

PRODI PSIKOLOGI PENDIDKAN SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Mempersembahkan : Seminar Nasional & Workshop Kultur dalam Pendidikan “Menumbuhkan Kesadaran Budaya pada Pendidik”

KULIAH UMUM PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Program Studi Psikologi Pendidikan SPs UPI Selanggarakan Kegiatan Kegiatan Kuliah Umum dengan tema

Program Studi Psikologi Pendidikan Telah Terakreditasi B

Mengelola Stres Pengasuhan dengan Mindful Parenting dan Power of Breathing

Stres karena anak-anak ga mau diatur ? Selalu pengen marah melihat tingkah laku anak -anak? Kami akan membahas permasalahan ini dalam webinar : Mengelola Stres Pengasuhan dengan Mindful Parenting dan Power of Breathing. Bersama 2 Narasumber yang berpengalaman yang akan berbagi tips terbaik agar para orang tua bisa mengelola stres nya dalam pengasuhan. Persembahan Komunitas Happy Mom, Happy Kids dengan Prodi Psikologi Pendidikan SPs UPI dan IPO Wilayah Jawa Barat Segera daftar karena peserta terbatas. Langsung klik di bit.ly/mengelola-stres Info : 081321115965 (Wulan)

Impelementasi Kerja Sama dengan Jurusan Psikologi Pendidikan dan Kaunseling Universiti Malaya melalui Pembelajaran Aplikasi Model Rasch

rasch 1

Dalam rangka implementasi kerja sama dengan Jurusan Psikologi Pendidikan dan Kaunseling Universiti Malaya (UM), Malaysia, pada hari Senin tanggal 9 November 2020 dan 16 November 2020 dimulai pukul 8.00 sampai 11.00, Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan online workshop Aplikasi Model Rasch dalam Pengujian Instrumen Penelitian yang terintegrasi dengan mata kuliah Asesmen dalam Pendidikan. Dosen UM yang menjadi guest lecture pada kegiatan tersebut adalah Bapak Bambang Sumintono, Ph.D.

Membuka kegiatan tersebut, Dr. Nurhudaya, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Asesmen dalam Pendidikan menyampaikan bahwa tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam asesmen. Beliau berharap dengan adanya kegiatan tersebut, kemampuan mahasiswa dalam asesmen dan kualitas penelitian dapat meningkat dan bertambah baik, serta mahasiswa dapat mengembangkan inovasi di tempat tugas masing-masing atau masyarakat. Kegiatan tersebut dihadiri 80 peserta yang terdiri atas dosen dan mahasiswa S2 Prodi Psikologi Pendidikan SPs  angkatan 2018 s.d 2020 serta dosen dan mahasiswa S1 Bimbingan Konseling UPI.

Mengawali pemaparannya pada pertemuan pertama, Bapak Bambang menjelaskan perkembangan Rasch sejak 1960 hingga saat ini melalui berbagai publikasi termasuk artikel ilmiah yang pernah beliau terbitkan dalam jurnal internasional bereputasi mengenai penggunaan model rasch dalam pengujian instrumen penelitian. Beliau juga menjelaskan tentang pentingnya memahami jenis data dan karakteristik pengukuran serta karakterisitik instrumen yang valid dalam penelitian kuantitatif. Mengakhiri pertemuan pertama, beliau menjelaskan tentang aplikasi model rasch dalam pengujian instrumen penelitian.

Pada pertemuaan kedua, Bapak Bambang menjelaskan bahwa kelemahan dari model pengukuran klasik adalah tidak adanya pengujian terhadap responden, padahal pengujian yang ideal dalam penelitian meliputi tiga unsur, yaitu instrumen, aitem, dan responden. Dalam pemaparannya kali ini, Bapak Bambang mendemonstrasikan cara pengolahan data mentah sampai menarik simpulan dari hasil pengujian instrumen, aitem, dan repsonden dengan menggunakan model Rasch.  Menurut Bapak Bambang, reliabilitas adalah tentang stastistik, variasi dan banyaknya data, sedangkan validitas adalah tentang argument yang memerlukan penjelasan konteks dan ditunjukkan dengan bukti empirik yang relevan.

Penjelasan Bapak Bambang yang sangat informatif, menarik, dan jelas didukung dengan bahan ajar yang sudah didistribusikan kepada peserta seminggu sebelum kegiatan dimulai sehingga memberi kesempatan kepada peserta untuk mempelajari materi terlebih dahulu. File data mentah yang juga sudah disiapkan oleh Bapak Bambang memudahkan peserta untuk langsung mempraktikkan pengujian instrumen selama kegiatan berlangsung.

Pembelajaran daring dengan Bapak Bambang memberikan kesan tersendiri untuk para peserta yang hadir, salah satunya pada Rahma Talita – mahasiswa S2 Psikologi Pendidikan angkatan 2019 genap – yang menilai kegiatan tersebut sangat menarik dan cara Bapak Bambang menjelaskan sangat sistematis dan mudah dipahami sehingga wawasan Rahma bertambah dan motivasi belajar meningkat. Selain itu, Rusi Alawiyah – mahasiswa S2 Psikologi Pendidikan angkatan 2020 yang saat itu bertugas sebagai MC – menilai bahwa kegiatan tersebut sangat mengasyikkan dan penyampaian materi sangat detail serta sikap Bapak Bambang sangat terbuka kepada peserta sehingga mengundang banyak pertanyaan baik dari dosen maupun mahasiswa. Rusi berharap kelak kegiatan serupa termasuk topik aplikasi model rasch dapat dilaksanakan secara luring. (Taufiqurrohman & Tina Dahlan, Desember 2020)

KIPRAH PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN SPS UPI DI PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT TUNAS MADANI LAPAS PEMUDA KELAS IIA KOTA TANGERANG

Lapas

Selasa, 10 November 2020, Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) untuk warga belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Tunas Madani (Lapas Pemuda Kelas IIA) Kota Tangerang. PKBM Tunas Madani merupakan pendidikan kesetaraan yang dilaksanakan di dalam lembaga pemasyarakatan untuk memenuhi hak atas pendidikan bagi narapidana remaja dewasa dan belum menyelesaikan pendidikan formal.

Kegiatan PkM ini bertujuan untuk membantu warga belajar PKBM Tunas Madani mengembangkan kepuasan hidup dan kebahagiaan melalui pencarian makna hidup dalam menjalani situasi terpenjara di Lapas. Warga belajar yang hadir untuk mengikuti kegiatan PkM berjumlah 60 orang didampingi kepala dan  4 tutor PKBM Tunas Madani (Lapas Pemuda Kelas IIA Kota Tangerang) serta 5 orang tutor yang juga berstatus narapidana di Lapas tersebut. Dikarenakan terbatasnya jumlah tim pelaksana PkM yang diizinkan memasuki wilayah Lapas, dengan demikian tim pelaksana PkM hanya dibatasi tujuh orang, yang terdiri atas dua orang dosen (Dr. Tina Hayati Dahlan, M.Pd, Psikolog dan  Hani Yulindrasari, Ph.D.), satu orang alumni (Moh. Fikri Tanzil Muttaqin, M.Pd.) dan tiga orang mahasiswa Prodi Psikologi Pendidikan SPs UPI angkatan 2020 (Tuti Azizah, S.Pd.Gr, Faiz Fatihul ‘Alwan, S.Pd., Taufiqurohman, S.Sos.), serta satu orang praktisi psikolog klinis (Erwin Fazrin, M.Psi., Psikolog). Kegiatan yang diketuai oleh Kaprodi Psikologi Pendidikan SPs UPI ini didanai hibah PkM dari SPs dan dilaksanakan secara tatap muka atas permintaan dan kesepakatan dengan pihak Lapas dengan mengikuti protokol kesehatan.

Kegiatan pembinaan dilaksanakan dalam waktu 1 hari secara tatap muka dimulai pukul 09.00 s.d 16.00 pada 60 warga belajar Paket A, B, dan C PKBM Tunas Madani Kota Tangerang yang dibagi ke dalam 2 sesi, masing-masing sesi terdapat 30 orang warga belajar. Kegiatan ini dibagi ke dalam dua kelompok peserta – yaitu kelompok pagi dan kelompok siang – yang masing-masing  terdiri atas 30 warga belajar yang didampingi oleh tutor. Meskipun di tengah pandemi, tidak menyurutkan semangat tim pelaksana dan peserta untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kegiatan PkM dibuka oleh Bapak Slamet Solehudin, M.Pd selaku Ketua PKBM Tunas Madani disusul penyampaian kata pembuka oleh Kaprodi Psikologi Pendidikan SPs UPI sekaligus perkenalan tim pelaksana PkM.

Metode yang digunakan dalam PkM ini adalah refleksi diri melalui beberapa metode pembelajaran dan focused group discussion; dengan rincian kegiatan sebagai berikut: (a) grouping, yaitu pembagian kelompok peserta melalui suatu permainan, (b) penjelasan tentang kebermaknaan hidup dan subjective well-being (kepuasan hidup dan kebahagiaan), (c) refleksi diri melalui gambar yang mencerminkan diri di masa lalu, masa kini, dan masa depan, (d) diskusi kelompok, dan (e) penjelasan dan refleksi diri tentang pemaafan, kebersyukuran, dan kebermaknaan hidup melalui menulis surat. Dalam kegiatan tersebut, ditemukan beberapa momen yang menimbulkan suasana sedih dan haru dengan mendengarkan kisah perjalanan hidup warga belajar sebelum mendekam di Lapas. Namun suasana sedih tersebut dapat dicairkan dan diredakan oleh peserta lain dan tim fasilitator.

Kegiatan ditutup dengan wrap-up oleh tim fasilitator dan refleksi dari perwakilan peserta. mengenai kegiatan pembinaan. Sebelum kegiatan usai, peserta diminta untuk mengisi lembar feedback mengenai kegiatan PkM tersebut. Para peserta merasa senang dan gembira dengan acara ini karena mereka merasa acara ini sesuai dengan kebutuhan mereka saat ini dan mereka bersemangat untuk menjadi inidividu yang lebih baik meski mendekam di Lapas.

lapas2

Salah satu peserta menyamapaikan rasa syukur dan terima kasih kepada tim pelaksana PkM yang bersedia datang ke Tangerang dalam situasi pandemi ini. Yang bersangkutan merasa bahwa penerimaan tim pelaksana tida seperti yang dia pikirkan dmimana mereka mengira bahwa tim pelaksan PkM pasti akan merasa takut berada di antara narapidana dan berada di kawasan Lapas. Sebelum tim pelaksana PkM meninggalkan ruangan, para peserta berharap bahwa kegiatan serupa akan dilakukan kembali di lain waktu. (Taufiq dan Tina Dahlan, 2020)

PARA PENCARI TOPIK PENELITIAN TESIS

Makrab 2-1

Tepat pada hari Senin, 14 September 2020, mahasiswa angkatan 2020 Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana UPI bertatap muka kembali dengan Kaprodi yakni ibu Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog sebagai realisasi dari pembaharuan upaya penyelesaian studi tepat waktu bagi mahasiswa angkatan 2020. Di pertemuan sebelumnya ibu Tina telah memberikan tugas kepada semua mahasiswa angkatan 2020 untuk mengirimkan catatan fenomena-fenomena yang menarik minat para mahasiswa ke google classroom untuk didiskusikan pada hari ini. Dengan semangat dan antusias yang sama dengan virtual meeting sebelumnya, dalam suasana pandemi Covid-19, mahasiswa tetap kritis dan semangat dalam mendiskusikan topik-topik penelitian mulai pukul 15.30 dalam virtual meeting.

Ibu Tina membahas satu per satu catatan fenomena yang mahasiswa submit melalui google classroom dengan menyajikan file tersebut disertai tanya jawab kepada mahasiswa yang bersangkutan. Fokus dan perhatian para peserta virtual meeting lebih meningkat dari pertemuan sebelumnya karena ini menyangkut tugas akhir mahasiswa magister dan turut menentukan kualitas dari penelitian yang memiliki novelty.

Makrab 2-2

Pada saat kegiatan ini berlangsung, perasaan dan pikiran para mahasiswa angkatan 2020 beraneka ragam, ada yang merasa khawatir tidak dapat menjawab pertanyaan dari ibu Tina mengenai topik penelitiannya, bahkan ada yang mencari topik penelitian lain jika misalnya topik penelitian yang dibuat belum sesuai atau belum ada clarity untuk diteliti, namun ada juga topik penelitian sudah jelas.

Pada kegiatan diskusi ini, ibu Tina membahas topik penelitian mahasiswa angkatan 2020 satu per satu dengan cara mengarahkan ke arah mana topik penelitian tersebut akan dituju agar penelitian tersebut menjadi jelas tujuan dan dapat dirasakan manfaatnya bagi khasanah keilmuan psikologi pendidikan dan juga masyarakat, serta merupakan bidang kajian psikologi pendidikan. Dengan pemaparan beliau yang santai dan menarik perhatian mahasiswa, banyak dari mereka yang mendapatkan pencerahan dalam pencaharian topik penelitian tesis.

Dengan dilaksanakanya kegiatan ini, ibu Tina berharap agar mahasiswa angkatan 2020 dapat memahami orientasi penelitian di Prodi Psikologi Pendidikan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sehingga kegiatan ini harus berakhir melebihi waktu yang telah dijadwalkan sebelumnya. Para mahasiswa angkatan 2020 mengucapkan terima kasih kepada ibu Tina yang begitu perhatian kepada mahasiswanya sehingga beliau mau meluangkan waktunya untuk kegiatan hari ini. Kegiatan hari ini ditutup oleh ibu Tina dengan himbauan untuk merumuskan topik penelitian yang lebih jelas serta sesuai payung penelitian dan kelompok bidang keilmuan Prodi. (Pena 2020)

MAKRAB Mahasiswa Baru Angkatan 2020 di Masa Pandemi

Makrab 1

Senin, 7 September 2020, Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kegiatan perkenalan serta diskusi santai antara mahasiswa baru angkatan 2020 dengan Dr.Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog selaku Ketua Program Studi Psikologi Pendidikan SPs UPI. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 15.30 hingga 17.10 yang diikuti oleh 25 mahasiswa baru angkatan 2020. Meski suasana pandemi masih belum selesai, tidak berarti menyurutkan semangat dan antusias mahasiswa baru dalam kegiatan masa-masa keakraban (MAKRAB) antar mahasiswa baru dan juga dengan Kaprodi.

Ibu Tina memulai topik pembicaran dengan sesi perkenalan para mahasiswa baru karena ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang.” Sesi perkenalan diinsiasi oleh salah satu mahasiswa baru – Guntur Sunarko Putro – yang bersedia menjadi moderator sekaligus mengawali perkenalan dirinya kepada Kaprodi kemudian diikuti oleh mahasiswa baru lainnya. Semua mahasiswa baru memperkenalkan diri terlebih dahulu untuk saling mengetahui satu sama lain. Perkenalan dilakukan secara singkat dengan menjelaskan asal daerah, tinggal di daerah mana, dan berasal dari jurusan apa saat lulus menjadi sarjana. Walau terkesan singkat, mahasiswa baru angkatan 2020 mempunyai kesempatan mengenal lebih jauh siapa teman seperjuangannya.

Makrab 2

Ada hal yang menarik sekaligus membuat suasana berkenalan semakin hangat, yaitu hadirnya salah satu mahasiswa asing yang berasal dari Korea Selatan yang bernama Ju Young Jae. Beliau sudah sekitar dua tahun menetap di Indonesia dan mempelajari bahasa Indonesia hanya dalam kurun waktu 2 bulan. Menurut ceritanya, Ju Young Jae mengikuti saran temannya untuk memiliki nama panggilan yang meng-‘Indonesia’ agar memudahkan penyebutan namanya, yaitu Ilyasa. Dikarenakan Kaprodi menyebut mahasiswa baru dengan diawali Akang atau Teteh, maka Ju Yong Jae pun dipanggil Akang Ilyasa dan beliau sangat menyukai panggilan tersebut. Pengalaman luar biasa bagi mahasiswa lainnya bisa berkesempatan memiliki teman satu angkatan dengan latar belakang negara yang berbeda.

Makrab 3

Setelah semuanya selesai memperkenalkan diri, Kaprodi melanjutkan topik pembicaraannya ke payung penelitian Prodi serta anjuran kepada mahasiswa baru untuk memulai penelusuran topik penelitian tesis yang diawali dengan pencarian fenomena yang mendasari penelitian dan urgensi dari topik yang akan diteliti. Semua mahasiswa baru  memperhatikan pemaparan beliau dengan cermat, ini terbukti dari banyaknya pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan oleh mahasiswa yang hadir.

Pada kegiatan ini para mahasiswa baru diinstruksikan untuk menuliskan semua fenomena-fenomena yang menarik minat untuk dijadikan sebagai topik penelitian tesis yang akan dibahas di pertemuan selanjutnya. Penjelasan yang beliau sampaikan begitu menarik sehingga memberikan banyak ilmu dan pemahaman serta membuka wawasan baru bagi seluruh mahasiswa baru angkatan 2020 yang mengikuti kegiatan MAKRAB.

Kegiatan ini meninggalkan kesan kepada mahasiswa yang hadir, diantaranya dari Lutfiatu Umam Majid yang mendapat pencerahan tentang tujuan sehubungan studinya di bidang psikologi pendidikan serta memacunya untuk lebih giat lagi dalam menggali dan mengulik fenomena yang menarik untuk diteliti yang mempunyai manfaat untuk lingkungan sosial di sekitarnya. Mahasiswa lain – Aulia Febliana Chaniago – berpendapat bahwa meskipun pertemuannya secara virtual, tetapi sangat membantu dalam memahami langkah awal untuk memulai melakukan riset-riset yang berkaitan dengan bidang psikologi pendidikan, selain itu juga kegiatan ini dinilai seru karena bisa bertemu dengan teman-teman baru dan mendapatkan esensi yang sangat tepat dari pertemuan tersebut. Anindita Nurmala Dewi sangat bersyukur bisa kenal langsung dengan Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog selaku Kaprodi Psikologi Pendidikan SPs UPI yang ramah dan memperlakukan mahasiswa baru dengan cara humanis sehingga semangat belajarnya makin meningkat.

Kegiatan MAKRAB yang sarat dengan diskusi santai ini tidak terasa telah dilaksanakan melebihi waktu yang dijadwalkan sehingga dengan diselenggarakannya kegiatan yang menarik ini, para mahasiswa baru dan Kaprodi menjadi semakin akrab dan pengetahuan baru pun bertambah.

Pendidikan bukan hanya pergi ke sekolah dan mendapatkan gelar tetapi juga soal memperluas pengetahuan dan menyerap ilmu kehidupan. (Shakuntala Devi)

(Pena2020)

Meningkatkan Keterampilan Menggunakan Teks Akademik dalam Menulis Proposal Penelitian

Suasana pandemi saat ini tidak menyurutkan semangat mahasiswa Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia dalam meningkatkan keterampilan dalam menulis teks akademik sehubungan dengan penyusunan proposal penelitian. Hari Senin, 13 Juli 2020, mahasiswa angkatan 2018 dan 2019 Program Studi Psikologi Pendidikan SPs UPI kembali menghadiri kegiatan academic writing secara dalam jaring (daring) menggunakan media Zoom meeting, dengan tema “Penyusunan Proposal Penelitian”. Kegiatan academic writing yang ke-2 kalinya diadakan pada tahun 2020 ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menulis teks akademik dalam proposal penelitian serta membuat peta kajian literatur.

Narasumber academic writing “Penyusunan Proposal Penelitian”,  Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi. M.Pd., Psikolog

Narasumber academic writing “Penyusunan Proposal Penelitian”,
Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi. M.Pd., Psikolog

Pemateri kegiatan academic writing kali ini adalah Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi. M.Pd., Psikolog, dosen sekaligus Ketua Program Studi Psikologi Pendidikan SPs UPI. Mengawali pemaparan materi, Dr. Tina menjelaskan struktur latar belakang penelitian dimulai dengan uraian gambaran fenomena yang mendasari penelitian ini dan urgensi dari topik yang akan diteliti, hasil-hasil penelitian terdahulu tentang topik yang akan diteliti, serta apa kebaharuan dan kontribusi dari penelitian yang akan dilakukan. Pemaparan dilanjutkan tentang pentingnya kajian literatur serta sumber referensi dari jurnal bereputasi (diutamakan internasional) dan cara membuat matriks literatur. Pemaparan diakhiri penjelasan tentang teks akademik dan ciri-ciri kebahasaan dari teks akademik.

Academic Writing 2

Pada kegiatan kali ini, peserta banyak dilengkapi konsep bagaimana merumuskan suatu permasalahan dan tujuan dilakukannya penelitian secara cermat dan tepat, serta bagaimana permasalahan yang ada diteliti dengan menggunakan pendekatan dan metode yang tepat. Menghadapi situasi pendemi saat ini, penelitian dengan pendekatan kualitatif sangat dianjurkan, mengingat kondisi pengambilan data dan observasi langsung di lapangan yang diprediksikan akan menghadapi berbagai kendala. Pemateri juga memaparkan kiat-kiat dalam menyusun proposal penelitian disertai dengan beberapa contoh artikel dari jurnal nasional dan internasional bereputasi.

Materi disampaikan dengan sangat menarik, memberi banyak ilmu dan pemahaman, serta membuka wawasan seluruh peserta yang mengikuti kegiatan academic writing tersebut. Walaupun kegiatan ini diadakan siang hari, namun peserta tetap bersemangat dalam mendengarkan dan mengikuti sesi tanya jawab.

Academic Writing 3

Beberapa kesan yang diberikan oleh peserta, diantaranya dari Dede Yani (Psikopen 2019) yang mendapat pencerahan dari pemaparan nara sumber, baik dari poin-poin penting yang harus dipertimbangkan dalam menyusun latar belakang maupun dari contoh-contoh penelitian, sehingga memberikan pemahaman yang lebih dan memudahkan dalam penyusunan proposal. Yuliani (Psikopen 2018) sangat bersyukur dengan adanya kegiatan kampus, khususnya prodi yang tetap memfasilitasi mahasiswanya dimasa pandemi ini, sehingga mendapatkan pencerahan dalam menulis penelitian yang sepertinya gampang tetapi kenyataannya tidaklah mudah, dan melalui kegiatan academic writing ini juga dapat mengetahui darimana harus memulai suatu penelitian, mengatasi kesulitan yang dihadapi, dan memulai kegiatan menulis. Lebih lanjut Yuliani juga sangat berterima kasih pada Ibu Kaprodi dari Pascasarjana Psikologi Pendidikan yang senantiasa meluangkan waktu, memotivasi, dan membagikan ilmunya, dan dengan melalui academic writing ini mahasiswa masih tetap bisa berkarya, produktif dan tetap bisa menimba ilmu meskipun pandemi masih berlangsung. Kesan yang dalam juga disampaikan oleh Layya Meutia (Psikopen 2019), bahwa dengan mengikuti academic writing bersama Ibu Tina Dahlan, dengan cara pemaparan yang cukup santai membuat peserta tidak merasa jenuh, bahkan lebih lagi yang bersangkutan mendapatkan penjelasan yang mudah dipahami, cukup rinci, memperluas wawasan untuk dapat melanjutkan kegiatan menulis penelitian yang sedang dilakukan.

Kegiatan yang awalnya dijadwalkan selama 1,5 jam ini, tidak terasa berakhir lebih dari waktu yang dijadwalkan, karena dengan sesi tanya jawab dan diskusi yang menarik, semakin menambah keingintahuan peserta untuk lebih menggali teknik penyusunan proposal penelitian lebih dalam. Dari peserta yang hadir, berharap akan diadakan lagi sesi-sesi tambahan dengan topik yang mendukung penyusunan proposal dan laporan penelitian, terlebih dengan kondisi masa pandemi yang masih berlangsung dan perkembangan teknologi informasi yang semakin maju dengan pesat. (Merryana, 2020).

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU TAMAN KANAK-KANAK KOTA BANDUNG MELALUI PELATIHAN LESSON STUDY

Lesson Study 1

Jum’at, 4 Oktober 2019, Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) dengan tema “Pelatihan Lesson Study untuk Guru Taman Kanak-Kanak Kota Bandung”. Pelatihan ini dilaksanakan di ruang 130, lantai 6 Gedung SPs Universitas Pendidikan Indonesia mulai pukul 8.00 hingga 16.00. Kegiatan ini diikuti oleh 26 guru dari enam taman kanak-kanak, yaitu TK Tunas Cilik, TK Tunas Unggul, TK BPI, TK Al Jannah, TK Al Hasan, dan TK Assalam. Pelatihan Lesson Study ini dimulai tepat pukul 08.00, yang dibuka oleh Ketua Prodi Psikologi Pendidikan, Dr. Tina Hayati Dahlan, M.Pd, Psikolog.

Pelatihan Lesson Study ini menghadirkan dosen tamu dari VU Amsterdam, Prof. Sui Lin Goei. Selain menjadi dosen di VU Amsterdam, beliau juga merupakan dosen di Windesheim University dan Asterdam University, Belanda. Prof. Sui Lin Goei memaparkan tentang Lesson Study yang belum banyak dilakukan di Taman Kanak-kanak di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa Lesson Study awal dikembangkan di Jepang dan kini makin populer di Eropa dan Amerika. Beliau menjelaskan pentingnya Lesson Study dilakukan, yaitu untuk mengembangkan praktik pengajaran dan kualitas pembelajaran, bukan untuk menerapkan/melakukan eksperimen suatu metode pembelajaran tertentu.

Lesson Study 3

Kegiatan pelatihan ini dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama, pelatihan diawali dengan pemaparan materi oleh Prof. Sui Lin Goei, mengenai teori dan konsep terkait Lesson Study, yang diterjemahkan oleh Raissa, mahasiswa Prodi Psikologi Pendidikan SPs UPI angkatan 2019. Fasilitator sangat interaktif dalam pemaparannya dan peserta menunjukkan ketertarikan dalam menyimak pemaparan yang diindikasikan dengan banyaknya yang mengajukan pertanyaan.

Sebelum mengawali sesi kedua, peserta diminta untuk melakukan icebreaking berupa menirukan gerakan dan lagu yang dipandu salah seorang guru. Tampak para perserta dan kedua pemateri menikmati dalam menirukan gerakan dan lagu tersebut disertai gelak tawa.

lesson study 2

Dikarenakan PkM ini bertujuan untuk melatih keterampilan, pada sesi kedua, peserta diminta untuk duduk berkelompok sesuai asal TK dan berdiskusi dalam pearancangan lesson plan, dengan dibimbing tahapan demi tahapan oleh Dr. Tina Hayati Dahlan, M.Pd, Psikolog dan dibantu mahasiswa Prodi Psikologi Pendidikan SPs angkatan 2019. Sesi kedua diawali dengan diskusi mengenai temuan kasus di sekolah masing-masing, yang kemudian dijabarkan hingga menjadi lesson plan, sesuai dengan tahapan yang dijelaskan pada sesi pertama. Sesi kedua diakhiri dengan presentasi rancangan lesson plan dari masing-masing TK yang langsung diberi tanggapan oleh kedua fasilitator. Slide dan semua lembar kerja yang digunakan dalam kegiatan ini berasal dari Prof. Sui Lin Goei yang sudah diterjemahkan mahasiswa Prodi Psikologi Pendidikan SPs angkatan 2019

Sebagai penutup, atas permintaan Prof. Sui Lin Goei, acara ditutup dengan gerakan Dali Dali Dum Dali yang dipandu oleh Astari, mahasiswa Prodi Psikologi Pendidikan angkatan 2019 serta lagu ‘terima kasih guru’ persembahan dari guru-guru TK untuk para fasilitator.

Diharapkan dengan adanya Pelatihan Lesson Study untuk Guru Taman Kanak-Kanak ini, guru-guru TK yang hadir dapat menyempurnakan dan menerapkan rancangan lesson plan di kelas. Kegiatan pelatihan lesson study ini juga diberitakan di website World Association of Lesson Studies (https://www.walsnet.org/blog/2019/10/04/training-lesson-study-kindergarten-teachers-at-universitas-pendidikan-indonesia/). (Azka & Tina Dahlan, 2019).

Kegiatan Academic Writing Perdana di Tahun 2020: ‘How to Write a Good Research Proposal’

Academic Writing 1

Dalam rangka meningkatan keterampilan menulis teks akademik bagi mahasiswa, sejak tahun 2017 secara reguler Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia telah menyelenggarakan kegiatan academic writing sebanyak 3 s.d 4 kegiatan/tahun dengan topik dan pemateri yang beragam. Jumat (8 Mei 2020) ini merupakan kegiatan academic writing perdana di Tahun 2020 dengan mengangkat topik ‘How to Write a Good Research Proposal’. Dengan menggunakan media Zoom Meeting, kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 35 mahasiswa S2 Program Studi Psikologi Pendidikan dan juga mahasiswa S1 Departemen Psikologi UPI. Kelas daring ini dibuka langsung oleh Ketua Prodi Psikologi Pendidikan, Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi. M.Pd., Psikolog.

Kegiatan ini menghadirkan pemateri Zein Permana, S.Psi., M.Si. (kandidat doktor psikologi Universitas Gadjah Mada), salah seorang Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Jani sekaligus peneliti khususnya dalam bidang psikologi sosial. Pada kesempatan tersebut, Kang Zein (sapaan kepada pemateri) mengangkat materi berjudul “Kiat-Kiat dalam Menyusun Karya Ilmiah/Rancangan Penelitian”. Kang Zein menyampaikan pentingnya bagi mahasiswa khususnya yang sudah lanjut pada tingkat S2 dan S3 untuk melakukan riset atau penelitian. Mengawali kegiatan tersebut, Kang Zein menyampaikan bahwa dengan semakin banyak riset, maka semakin banyak dan tinggi pemahaman kita terhadap sesuatu hal.

Materi Academic Writing yang sedang ditampilkan.

Meski dilaksanakan secara daring, kegiatan ini disambut antusias oleh mahasiswa Program Studi Psikologi Pendidikan karena dengan adanya kelas tambahan di luar perkuliahan daring, mahasiswa memperoleh pengalaman serta ilmu baru terkait penulisan karya ilmiah yang baik. Tidak hanya itu saja, selama kelas berlangsung, Kang Zein pun memberikan bimbingan terkait beberapa masalah dan kendala yang dihadapi mahasiswa Psikologi Pendidikan yang sedang menyusun dan menyempurnakan proposal penelitian, serta menyusun tesis.

Academic Writing 2

Diskusi timbal balik dengan Kang Zein mengenai penulisan karya ilmiah ini berjalan dengan sangat efektif. Respon dan feedback dari teman-teman mahasiswa pun tampak sangat baik, terbukti dengan banyaknya mahasiswa yang berbagi pengalaman mereka dalam menulis karya ilmiah/proposal. Siska, mahasiswa Psikologi Pendidikan angkatan 2018 menyampaikan kesannya sebagai berikut “Alhamdulillah kegiatan academic writing ini seru, pemaparannya asyik dan mudah dipahami,  bener-bener ngasih petunjuk gimana harus mulai penelitian karena dijelaskan step by step. Bermanfaat dan membuka wawasan sekali”. Sebagai salah satu peserta, saya pun juga merasakan keseruan dan kebermanfaatan dari academic writing ini. Selain dari keterbaharuan kajian dan metode-metode yang disampaikan oleh Kang Zein, suasana diskusi di tengah-tengah ibadah puasa Ramadhan ini tidak menimbulkan kepenatan, justru benar-benar kegiatan yang berfaedah dan bermanfaat sekali.

Diskusi selama lebih kurang empat jam ini cukup banyak mengulik kiat-kiat penulisan karya ilmiah yang baik dan benar, scientific, dan tentunya bermanfaat. Diharapkan juga adanya diskusi lanjutan mengenai beberapa metode penelitian beserta alat/aplikasi analisis penelitian terbaru yang dibutuhkan mahasiswa pada era modern saat ini. (Astari. M, 2020)

Diskursus RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

hani yulindrasari

Hani Yulindrasari, PhD Dosen Prodi Psikologi Pendidikan

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) telah menuai kontroversi dalam dua bulan terakhir ini. RUU P-KS ini digagas Komnas Perempuan bersama dengan Forum Penyedia Layanan berdasarkan pengalaman korban yang gagal mendapatkan keadilan karena hukum yang sudah ada tidak dapat mengakomodasi. RUU ini digodok oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2014 berdasarkan hasil kajian kasus kekerasan seksual selama 10 tahun dari 2001 – 2011. RUU ini kemudian mendapat penolakan dari beberapa kelompok aktivis perempuan . Beberapa poin kunci keberatan mereka adalah bahwa dalam naskah akademiknya, RUU ini tidak mengaitkan dengan konsep keluarga,  menggunakan feminist legal theory sebagai dasar. Feminist legal theory adalah suatu konsep yang mengkritisi hukum sebagai salah satu sumber subordinasi perempuan, sehingga perjuangan hak-hak perempuan perlu diraih melalui perubahan hukum.  Oleh karena itu RUU ini  juga dinilai akan membawa dampak negatif terhadap tatanan keluarga di Indonesia.

Realita

Mari kita lihat kenyataan di lapangan. Menurut data Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan meningkat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dari 25.522 kasus yang tercatat di tahun 2007 menjadi 348.446 kasus di tahun 2017. Data dari Forum Pengada Layanan bagi perempuan korban kekerasan menunjukkan bahwa 47% dari kasus kekerasan terhadap perempuan merupakan kasus kekerasan seksual. Kekerasan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga terjadi pada anak laki-laki dan perempuan, juga terhadap laki-laki dewasa. Data Sapa Institute menyebutkan bahwa ada 1,1 juta kasus kekerasan seksual terhadap anak laki-laki dan 800 ribu kasus pada anak perempuan. Salah satu kasus kekerasan seksual sadis yang terjadi pada anak adalah kasus gang rape yang dialami Yuyun (14 tahun) di Bengkulu pada tahun 2016.

Yuyun diperkosa oleh 14 orang laki-laki yang berusia remaja dan dewasa sampai meninggal dunia. Data kekerasan terhadap laki-laki dewasa, sayangnya, sangat sulit diperoleh karena ada konstruksi maskulinitas hegemonik yang membuat laki-laki korban kekerasan seksual tidak berani melapor bahkan tidak mau mengakui bahwa ia mengalami kekerasan seksual. Maskulinitas hegemonik mendefinisikan laki-laki sebagai pemegang kuasa, sehingga jika ia menjadi korban (kehilangan kuasa) masyarakat akan lebih sulit menerima dan laki-laki tersebut rentan terhadap stigma sosial yang mengancam identitas kelaki-lakiannya. Salah satu kasus kekerasan seksual terhadap laki-laki yang mencuat ke permukaan adalah kasus Saepul Jamil. Kasus lain yang sempat muncul adalah kasus Indra Bekti tapi sampai sekarang tidak jelas bagaimana penyelesaiannya.

Mengingat kekerasan seksual merupakan fenomena gunung es, peningkatan kasus yang tercatat dapat diartikan bahwa mulai muncul kesadaran di masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan seksual.

Namun sayangnya kesadaran melaporkan tersebut tidak didukung dengan perangkat hukum yang dapat menjerat pelaku dan memberi keadilan terhadap korban. Salah seorang guru besar menjelaskan bahwa RUU P-KS ini merupakan ketentuan khusus (lex specialist) dari KUHP. RUU ini mengisi kekosongan hukum khusus pada kasus kekerasan seksual. Banyak kasus kekerasan seksual tidak dapat diproses hukum karena KUHP hanya mengatur tentang perkosaan atau pencabulan. Padahal banyak kasus perkosaan dalam bentuk pemaksaan melakukan oral seks terhadap pelaku, pemaksaan memegang kemaluan pelaku, dan berbagai bentuk penetrasi nonpenis seperti kasus perkosaan dengan gagang pacul (terjadi pada Eno di tahun 2016) dan batang ketela pohon yang terjadi pada Lestari di Klaten pada tahun 2002, kedua korban meninggal dunia.

 Jika tidak meninggal dunia, korban kekerasan seksual ini membawa trauma fisik dan psikis seumur hidupnya. Melihat banyaknya kasus kekerasan seksual yang menemui dead enddalam perlindungan dan pemulihan korban, RUU P-KS ini sangat penting bukan hanya untuk korban tapi juga untuk kita sesama manusia yang sudah seharusnya peduli pada penghormatan harkat martabat semua manusia.

Apakah RUU P-KS  bertolak belakang dengan  Ketahanan keluarga?  Semua korban kekerasan seksual tentunya memiliki keluarga, karena itu setiap peristiwa kekerasan seksual yang terjadi tentu akan berpengaruh pada seluruh keluarga. Dampak psikologis tidak hanya dirasakan oleh korban tapi juga orang tua, kakak, dan/atau adik korban. Dengan demikian, RUU ini juga membantu keluarga untuk mendapatkan keadilan.

Konsep ideal memang mengatakan keluarga adalah unit masyarakat yang terkecil tempat generasi penerus dididik dan dikuatkan karakternya. Idealnya, setiap anggota keluarga memiliki moralitas yang tinggi. Tapi perlu diingat tidak semua keluarga ideal. Banyak kekerasan seksual yang justru dilakukan oleh orang terdekat korban seperti kakak, kakek, ayah, paman, bibi, dan ibu. Seperti kasus pilu yang dialami Bunga (17) di Lampung pada tahun 2018. Bunga diperkosa oleh delapan orang termasuk ayah, paman, dan teman-teman ayahnya. Juga kasus WA (15), di Jambi, yang diperkosa kakak kandungnya berkali-kali sampai hamil, kemudian mengaborsi kandungannya. Alih-alih mendapatkan keadilan, WA ditersangkakan karena melakukan aborsi.

Membangun keluarga ideal membutuhkan waktu yang panjang, seperti yang diinginkan AILA, Undang-Undang Ketahanan Keluarga bisa saja diperlukan untuk menjamin ketahanan keluarga. Tetapi Undang-Undang Ketahanan Keluarga saja tidak akan cukup.  Jika kekerasan seksual dilakukan oleh anggota keluarganya sendiri, tentunya keadilan untuk korban tetap harus ditegakkan. Korban tetap harus dilindungi dan dipulihkan. Pelaku tetap harus dihukum setimpal. Untuk itu RUU ini tidak bertentangan dengan ketahanan keluarga. RUU P-KS justru mendukung tercapainya rasa keadilan untuk keluarga korban dan korban sendiri.

Apakah RUU P-KS pro LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender)? RUU P-KS, seperti juga semua hukum di Indonesia, harus menganut prinsip non discriminatory. RUU ini harus dapat melindungi seluruh warga negara tanpa memandang kelas sosial-ekonomi, agama, ras, suku bangsa, jenis kelamin, dan gender. RUU ini fokus pada perlindungan dan pemulihan korban. Siapapun korban kekerasan seksual, tetap harus dilindungi dan pelakunya tetap harus dihukum. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan RUU ini pro-LGBT. Dengan RUU ini, laki-laki/perempuan yang mengalami pelecehan seksual baik oleh perempuan atau laki-laki lain berhak mendapatkan perlindungan dan pemulihan. RUU ini pro keadilan untuk korban, bukan pro-LGBT. Dengan demikian, RUU ini bermaksud melindungi semua korban kekerasan seksual dan sebaiknya fokuskan perhatian kita pada korban, bukan pada kepentingan lainnya. ***

Sumber : https://www.pikiran-rakyat.com/opini/2019/02/20/diskursus-ruu-penghapusan-kekerasan-seksual

Dosen Tamu dari Belanda di Mata Kuliah Statistika Terapan

kuliah statistika

Rabu (13/2/2019), mahasiswa Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana UPI angkatan 2018 kedatangan dosen tamu pada mata kuliah Statistika Terapan. Dosen tamu tersebut merupakan dosen statistika dari Belanda, Prof. Hans Vos menyampaikan kuliah tentang bagaimana penggunaan statistika untuk dalam penelitian khususnya dalam penelitian psikologi pendidikan.

Prof. Hans Vos merupakan salah satu profesor dari University of Twente Belanda. Ia mengunjungi Indonesia sebagai visiting professor selama kurang lebih dua bulan di Sekolah Pascasarjana UPI. Setelah sebelumnya mengisi kuliah umum tentang sistem pendidikan di Belanda, pada kesempatan ini Prof. Hans Von berbagi ilmu tentang ilmu statistika yang menjadi salah satu keahlian beliau dalam bidang Matematika dan Ilmu Manajemen.

Kegiatan ini disambut antusias oleh mahasiswa karena memperoleh pengalaman yang berbeda dari biasanya. Tidak hanya itu Prof. Hans Vos selaku dosen tampaknya juga sangat antusias membagi ilmunya dalam matakuliah pagi itu. Bahkan katanya ia sengaja membeli baju batik sebagai bentuk antusiasme menghadiri kelas dan rasa bangganya bisa kembali berkunjung ke Indonesia.

Menurut salah seorang mahasiswa, Prof. Hans Vos menyampaikan materi dengan jelas. “ Beliau memaparkan materi dengan sederhana dan sangat jelas karena materi dielaborasi dari akar sampai kepada teori yang kita ketahui sekarang”, Papar Cheryl salah satu mahasiswa yang mengambil perkuliahan Statistika Terapan.

Hal serupa juga dirasakan Alya,” Prof. Hans Vos memberikan kuliah sangat atraktif, rinci, dan runut,” paparnya. Meskipun merasa sedikit ada kendala bahasa namun pengalaman ini menjadi hal baru yang berkesan baginya. “Meskipun sempat bikin kening berkerut tapi bisa merasakan kuliah dari seorang ahli sudah suatu keberuntungan bagi saya.” Papar Alya.

Hadirnya Prof. Hans ternyata menambah optimisme mahasiswa yang hadir pada saat itu, “Ternyata ilmu yang kita pelajari selama ini tidak jauh berbeda dengan yang di pelajari di Belanda sana,” papar Bu Lisni, salah satu mahasiswa. “Artinya kita sebagai mahasiswa Indonesia juga bisa maju asalkan mau serius belajar terhadap apa yang bisa kita tekuni. Ini menjadi suatu kebanggaan bagi saya membuka wawasan lain, tidak hanya sekadar materi perkuliahan” Tambahnya. Kehadiran dosen tamu Prof. Hans ini berakhir dengan kegiatan foto bersama dengan seluruh kelas. (Fadhilla, 2018)

PRODI PSIKOLOGI PENDIDIKAN SPS UPI MENGADAKAN KULIAH UMUM “PENTINGNYA KOLABORASI ORANG TUA DAN GURU DALAM PENDIDIKAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0”

Kuliah Umum

Bandung, UPI

Jumat, 5 Oktober 2018, Program Studi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan kuliah umum dengan tema “Pentingnya Kolaborasi Orang Tua dan Guru dalam Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0”, bertempat di ruang Auditorium Sekolah Pascasarjana UPI. Seminar yang dibuka oleh Dr. Tina Hayati Dahlan, M.Pd, Psikolog selaku Ketua Prodi Psikologi Pendidikan SPs UPI dihadiri 74 peserta yang berasal dari mahasiswa S1 Departemen Psikologi UPI, dosen Prodi Psikologi Pendidkan SPs dan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI, guru SLB, guru PAUD, serta mahasiswa dan alumni Prodi Psikologi Pendidikan SPs UPI.

Kuliah umum ini menghadirkan pembicara, Prof. Dr. Juke Roosjati Siregar, M.Pd, Psikolog, pakar pendidikan keluarga dari Universitas Padjajaran Bandung, yang memaparkan topik tentang “Pentingnya Kolaborasi Orang Tua dan Guru dalam Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0”. Prof. Dr. Juke menyampaikan bahwa pembentukan karakter peserta didik yang signifikan adalah dimulai dari keluarga dan sekolah. Beliau juga menyampaikan bahwa perkembangan anak akan baik jika terjadi kolaborasi antara rumah dan sekolah; dan lingkungan harus selalu membimbing karena segala kebaikan telah ada pada diri anak secara lahiriah.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa tipe-tipe kolaborasi orang tua dan guru yang efektif diterapkan pada masa revolusi industri 4.0 sekarang ini yaitu dalam bentuk parenting, communicating, volunteering, learning at home, decision making, dan collaborating with the community.

Salah seorang peserta seminar yang merupakan guru SD dan juga sebagai mahasiswa Prodi Psikologi Pendidikan SPs UPI, Syara, menuturkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat, selain kaya dengan teori pendidikan, pemaparan Prof. Dr. Juke pun dinilai sangat praktis dan mudah dipahami sehingga para guru dan orang tua sangat terbantu dalam penanganan peserta didik baik di sekolah maupun di rumah. (Wahyuni, 2018).